Sabtu, 19 Desember 2015

oranglain bagiku

Selamat malam, hati yang masih
merindukan dalam diam.
Sejak aku memilih tak lagi perduli,
aku sadar jika aku tengah berpura-
pura.
Aku bersandiwara menjadi tuli,
Namun jauh dalam nurani, aku masih
begitu peduli.
Berbohong itu dosa. Namun
kebohongan kali ini sungguh hanya
untuk membentengi hatiku dari luka.
Sadarkah? Aku bersihkeras berusaha
tak mau tau tentangmu. Sejak kamu
acuh saat ku butuh. Sejak dengan
duniamu kamu merasa asik, namun
disini aku terusik. Sebab, kabarmu
yang aku butuhkan meskipun sedetik.
Sebab perhatianmu yg hilang
membuatku tergeletik untuk berhenti
pada satu titik. Titik kejenuhan. Titik
kebosanan. Titik kemuakan yang
rasanya ingin ku ledakkan di
hadapanmu.
Hargai kesabaranku sedikit. Rasa yg
kau hadirkan begitu menyelekit. Sakit,
ketika ku minta sebentar waktumu
namun kau malah menolak menjerit.
Lepaskan jika aku tak berarti.
Pergilah jika memang rasamu mati.
Kepadaku kamu meminta hati.
Namun tidak sedikitpun pernah kamu
mengerti tentang sebuah hati